Seperti yang kita tahu, sejak Covid-19 menyerang dunia banyak orang kehilangan pekerjaan tetap mereka. Bahkan para fresh graduate juga banyak yang kebingungan mencari kerja. Persaingan pun semakin sengit dengan lapangan pekerjaan yang juga semakin sempit.
Sebelum saya melanjutkan ke poin utama, izinkan saya bercerita sedikit tentang perjalanan saya memutuskan untuk menjadi seorang freelancer.
Berawal di tahun 2020. Tidak hanya orang-orang yang jabatannya sudah mapan, Bahkan saya sendiri pun juga ikut terkena dampaknya. Tahun 2019 lalu, saya baru saja wisuda, lalu saya berusaha melamar kerja ke beberapa perusahaan. Kabar baiknya, saya diterima sebagai copywriter di sebuah perusahaan start-up pada tahun 2020. Lingkungan kerjanya amat sangat nyaman dan rasa-rasanya saya betah di perusahaan ini. Namun, baru genap 2 bulan saya bekerja, tiba-tiba di bulan ke-3 saya mendapat kabar bahwa pihak perusahaan terpaksa harus melakukan perampingan karyawan. Beberapa di antaranya dipekerjakan dari rumah dengan gaji yang tidak sebanyak sebelumnya, melainkan sudah dipotong 50%. Sementara beberapa orang lainnya terpaksa diberhentikan.
Meski saya adalah salah satu karyawan yang saat itu dipekerjakan dari rumah, namun saya tetap cemas karena bisa saja saya juga diberhentikan. Rupanya perasaan saya benar, genap 3 bulan saya bekerja di perusahaan tersebut saya pun diberhentikan. Saya paham betul situasi saat itu, tidak ada pilihan lain bagi CEO selain mengurangi karyawannya atau membiarkan perusahaannya gulung tikar. Karena perusahaan ini sendiri belum suistainable.
Dari kurun waktu Mei sampai Desember 2020 saya benar-benar berada di rumah. Namun saya tidak diam. Saya berusaha melakukan apapun yang bisa saya lakukan. Saya berusaha melamar pekerjaan lagi ke sana kemari, baik secara online maupun offline. Saya juga menjual snack buatan sendiri. Bahkan sampai saya mengikuti berbagai challenge dan lomba baik itu tentang kepenulisan ataupun voice over.
Saat itu saya aktif menulis puisi di akun instagram saya, saya juga mengunggah beberapa video voice over challenge. Kebetulan saat itu saya memiliki teman yang memang bekerja sebagai videografer dan fotografer wedding. Dia tahu bahwa saya suka menulis puisi dan membuatnya menjadi musikalisasi puisi. Selain itu, di tahun itu dia juga tahu bahwa saya aktif mengikuti voice over challenge. Teman saya pun akhirnya menghubungi saya dan menawarkan kerjasama dalam pembuatan puisi beserta voice over-nya untuk project video wedding yang sedang dia kerjakan. Saya pun menerima tawaran tersebut. Di tengah sulitnya mencari pekerjaan, menurut saya ini adalah peluang yang bagus.
Berangkat dari sinilah akhirnya saya menjadi seorang freelance voice over hingga saat ini. Saat itu saya mengunggah hasil project dari puisi dan voice over saya yang sudah jadi ke akun instagram pribadi saya. Konten tersebut pun mendapat respon positif. Dari sini akhirnya saya mulai ada job voice over lain untuk mengisi project company profile sekolah, konten sosial media untuk usaha mikro milik teman-teman saya, dan juga beberapa project youtube.
Pikir saya, saya terima dulu project-project tersebut untuk mengumpulkan portfolio dulu supaya saya bisa masuk ke kolam yang lebih luas lagi. Namun sama seperti orang jualan, yang namanya dagang baik itu produk fisik ataupun jasa pasti ada pasang surutnya atau bahkan tidak ada pemasukan sama sekali. Akhirnya saya pun memutuskan untuk mencoba terjun ke beberapa market place untuk freelancer. Seperti beberapa market place berikut ini;
1. Fiverr.com
Pada tahun 2020 saya memutuskan untuk terjun ke market place sejuta umat ini. Di sini banyak sekali freelancer yang menjual jasanya mulai dari copywriter, content writer, graphic design, animator,video editor, voice over, software developer, dan masih banyak lagi yang tarafnya internasional. Jika kita ingin menjual jasa di sini, mau tidak mau kita harus bisa berbahasa Inggris. Karena para clients dan freelancer-nya juga berasal dari berbagai negara. Selain itu, bayaran yang kita dapatkan di sini juga menggunakan Dollar. Saya sudah membuat Gigs berupa beberapa hasil protfolio kerja saya di platform ini. Namun sampai saat ini masih belum pecah telur, ya mungkin karena saya jarang aktif di Fiverr.
Karena di Fiverr saya tak kunjung mendapatkan client, teman saya pun akhirnya menyarankan saya untuk terjun di Fastwork. Sebenarnya ini adalah marketplace milik Thailand, namun yang basisnya ada di Indonesia juga ada. Saya membuat akun dan mulai terjun di marketplace ini mulai awal Februari 2022, lalu akhir Februari 2022 saya mendapatkan client pertama saya. Kebetulan di tahun 2022 saya juga telah mendapatkan pekerjaan baru menjadi content writer sekaligus voice over untuk channel youtube, sehingga ini juga bisa menjadi tambahan untuk portfolio saya. Berbeda dengan Fiverr, di marketpalce ini saya dibayar dengan menggunakan rupiah dan client saya pun kebanyakan adalah orang Indonesia dari berbagai perusahaan. Cara menggunakan platform ini juga cukup mudah yaitu cukup dengan buat akun, isi dan lengkapi data, upload KTP dan cantumkan ATM, serta upload portofolio. Dari sekian banyak marketplace untuk freelancer, Fastwork adalah satu-satunya platform yang sangat membantu saya untuk mendapatkan pekerjaan. Bahkan saya sudah mendapatkan lebih dari 145 pekerjaan voice over melalui marketplace ini. Beberapa hasil dari voice over saya, bisa kalian lihat di link berikut ini;
Epic Docuseries; Epic Vice; Digital Commercial; Accurate Official
3. Upwork.com
Upwork juga salah satu marketplace untuk freelancer yang bertaraf internasional sama seperti Fiverr. Hanya saja, jika di Fiverr kita perlu membuat Gigs atau portfolio seperti halnya juga di Fastwork serta para client lah yang mencari kita. Namun di Upwork, kitalah yang harus aktif mencari client dengan mengirimkan penawaran ke client supaya bisa mendapatkan pekerjaan. Karena marketplace ini bertaraf internasional, jadi pembayaran yang digunakan pun juga menggunakan Dollar. Tapi hingga saat ini, saya juga belum pecah telur di marketplace ini.
4. Freelancer.com
Sama seperti namanya, Freelancer.com juga merupakan salah satu marketplace untuk para freelancer. Tidak berbeda jauh dengan Upwork dan Fiverr, marketplace ini juga bertaraf internasional. Sehingga bahasa yang digunakan pun adalah Bahasa Inggris dan client-nya pun juga berasal dari manca negara. Sama seperti Upwork, di marketplace ini para freelancer-lah yang harus aktif menawarkan jasanya dengan pengirimkan proposal penawaran ke para client yang menggunggah lowongan pekerjaan di sana. Namun di platform ini, para freelancer bisa menggunggah hasil portfolio-nya sama seperti di Fiverr dan Fastwork. Untuk sistem pembayarannya sendiri rata-rata menggunakan Dollar.
5. LinkedIn
Siapa sih yang tidak tahu platform profesional yang satu ini. Selain berperan sebagai platform untuk mencari kerja dan terkoneksi dengan orang-orang profesional, ternyata di platform ini kita juga bisa mendapatkan pekerjaan freelance. Saya pun pernah mendapatkan tawaran project voice over dari Spanyol untuk mengisi iklan Youtube Premium dan Google, serta juga dari China untuk mengisi Video Game. Hanya saja karena pekerjaan yang saya tekuni adalah yang harus melalui audisi terlebih dahulu, maka saya pun harus mengikuti prosedur yang ada. Dan memang masih belum rezeki, karena saya tidak lolos audisi. Tetapi hal itu tidak menyurutkan semangat saya untuk terus berproses, karena kesempatan lain pasti akan datang lagi meski tidak sama. Tetapi selagi kita mau menjemputnya dengan penuh kesiapan,kesempatan-kesempatan yang lebih besar pasti akan ada lagi bukan?





Wah, jadi penasaran cerita detailnya pas awal terjun ke fastwork. Mungkin bisa spill tutorialnya, mbak?
BalasHapusSalam kenal,
Lili.